Terlalu menengadah ke atas, akhirnya leher keseleo.
Perasaanpun jadi tidak enak, tidur susah, berdiri apa lagi.
Ya, namanya juga menengadah.
Aku sekumpulan orang-orang yang “mante” kalo dalam bahasa ibuku.
Selalu tercengang ketika ada hal baru dihadapan.
“mante” lah aku akhirnya, berdiri mematung.
Mematung dan berdiri.
Begitu seterusnya.
Sedangkan mereka sudah bergerak, walau sebatas merangkak.
Lagi-lagi aku tercengang melihat sang waktu, berjalan hingga lupa
padaku.
perlukah kuberikan dia sebuah tanda, bahwa aku disini.
Ada, berwujud dan nyata.
Perlukah kuberteriak?
“hei !! aku disini”
Arsip penulis: r r
Rahasia
Jadi malam ini, ada dua orang pria berencana menghirup udara malam.
Jadi begini rincian ceritanya, pas ngisi bensin motor di pom bensin.
Pria yang bawa motor bilang ke temennya yang dibelakang, “bro, aku ngisi minyak 5 ribu ya?
Yang dibelakang hanya senyum-senyum.
Lalu si pria pembawa motor bilang, “ternyata kamu punya muka tebal juga ya?
hahahaa.. dia tertawa.
Pas mau ngisi bensin, sipengendara noleh ke belakang.
Ternyata si bro, udah lari turun.
Dia hanya tersenyum dari jarak 100 meter dari pom bensin.
Si pengengendara geleng-geleng kepala.
Lalu si pengengendara dengan muka tebal, sangat tebal malahan.
Si pengendra: “Bang, isi 5 ribu”
Penkerja pom bensin: “sepuluh ribu? dia balik nanya.
Si pengendara: hanya diam, membuat muka tampak cool se cool-cool nya.
Lalu merentngkan tangat, bebrarti lima.
si penjaga Pom bensin langsung mengangguk dan sedikit tersenyum.
Si bro yang berdiri dari kejahuan juga tersenyum, tepatnya tertawa!
Lalu, malam itu terjadilah ceramah singkat.
Pengendara:”kenapa kamu turun? malu ya?
Kamu tahu kenapa orang pincang berjalan tidak baik?
Bro:”karena dia memang pincang”
Pengendara:”tepat sekali! jadi kenapa juga kamu malu? Jadilah diri kita sendiri, apa adanya.
Kalo memang kita tidak punya uang, alias lagi kere, bokek atau apalah namanya.
Ya be yoursel
f. Harta hanya membedakan kita didunia, tidak diakhirat.
Buat apa di elu-elukan di dunia, tapi diakhirat dapat siksaan yang pedih!
Bro:”manggut-manggut”
Pengendara:”kenapa cuma manggut-manggut?
Bro:”jadi gimana juga?
Pengendara:”Nangis dong! aku udah capek jelasin dengan bahasa yang menyentuh qalbu.
Begitulah kisah dua pemuda, yang rada-rada aneh itu.
So, the secret is.. Pengendara itu adalah aku.
*gak penting -__-”
Malang dan Kasian
Malam ini cuaca agak kelam, tak berbintang.
Sama seperti dua orang pria ini yang sedang kesepian,
amat sangat.
Tak tahu yang harus dilakukan, maklum fikiran sudah penat.
Penat dengan hiruk pikuk dunia, kesoksibukan dengan dunia.
Padahal, pada saa t di yaumil mahsyar yang ditanya adalah amal.
Tak ada yang lain.
Kita memang sudah buta, atau sok buta.
kita sudah tuli atau sok tuli.
Kita sudah bejat dan tertimpa bencana lagi.
Sungguh malang manusia ini.
Sungguh..
the last poem (Soe Hok Gie)
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di mIraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu atau bunga-bunga yang manis dilembah mandalawangi..
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati disisimu manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu.
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau alam yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa.
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa.
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada.
berbahagialah dalam ketiadaanmu…
Tentang Diri
Tidak ada keraguan pada sebuah jarak.
tidak jua ada keresahan disana.
Yang dituntut adalah kesabaran,
kesabaran akan keberadaan jarak.
Hanya sepenggal galah jarak itu,
Namun dinding penahan terbuat dari baja.
Sukar untuk meluluhkannya, apalagi hanya dengan menggunakan
tangan yang telanjang.
Cara yang paling mudah adalah dengan menangis,
menangis untuk memberi kesadaran bahwa kau mutlak tidak mempunyai kekuasaan.
Hanya penerima, diberi tepatnya.
Patutkah kesombongan itu menjadi baju zirahmu?
Bisa menahan timah panas, tapi tidak tatapan dan fikiran.
Berjalanlah layaknya sipincang, yang terpincang-pincang.
Karena dia memang pincang, begitu jua denganmu.
Berjalanlah dengan kedua kakimu, baik beralas, maupun beralas tanah.
Jauk jarak itu, kalau kau berdiri dari atas gunung kalangbaloh.
Tapi bukankah kau pendaki yang handal?
dakilah setinggi apapun ia, kalaupun kau mati karenanya.
Orang kan menyadari bahwa kau adalah pendaki sejati,
mati karena mendaki bukan sedang menangis.
Mimpi itu adanya ketika tidur,
Impian dikala terjaga bukanlah mimpi namun hayalan.
Jadikan mimpi itu sempurna dikala terjaga, akan kusebut dia kenyataan.
Namun jikala tidak, kau hanya seorang pemimpi.
Tidak lebih, waktu tak akan menanti.
Namun dia ada untuk siapapun, bahkan untukku.
Bumoe dimoe ba-e..
Bumi Manusia Pengkeluh Kesah

Sudah ditengah jalan, namun kaki terluka.
Darah bercucuran, menetes membasahi bumi.
Bumi yang kian menua, renta dan kini sedang menangis tersedu-sedu..
Masih mengeluh jua si manusia, manusia yang tak tahu menahu.
Kalau boleh ia memilih, ia akan memilih pergi.
Meninggalkan si manusia pengkeluh kesah yang belia ini.
Kalaulah dia tahu, aku yakin dia jua kan menangis dan menangisi.
Kau hanya berjalan dimuka bumi, mengenang waktu yang banyak kau habiskan.
Mengkeluh kesahkan hidupmu, lalu kaupun menasihani diri sendiri.
Pernahkah bertanya, seberapa lama ia menopangmu berpijak?
Melihatmu dikala suka dan dukamu.
Menolehpun enggan, apalagi memperdulikannya.
Tak ingin kau menyentuhnya sedikitpun, sungguh sudah terlalu jauh kau melangkah
Duhai pengeluh.
Tidak sedikitpun ia mendendam..
Tak sedikitpun, walau kau memporak-porandakan hati lahir dan bathinnya.
Lahir dan bathinnya si pengkeluh kesah..
Ia kan sedia merangkulmu dikala kau telahpun lelah menghitung hari,
Ia kan sedia..
Sedikit saja, lihat dengan ujung mata pun boleh.
Istbatkan dalam hati, kalau kau masih menyayanginya duhai manusia..
gift

Pernahkah kau mendapatkan sebuah pemberian, sebut saja sebuah kado yang dibalut dengan cover yang indah atau sebaliknya. Kadangkala, kita dapat kado yang dibalut dengan balutan yang sangat amat sederhana. Namun kita tidak tahu bahwa didalamnya terdapat hadiah yang sangat bagus. Kadang sebaliknya, kita mendapatkan kado/hadiah yang dibalut dengan mewah dan bahan yang bagus. Tapi isinya tidak seberapa.
Begitu juga dengan segala rejeki yang Allah berikan kepada kita manusia, kadang Allah memberikan kita sesuatu yang terlihat biasa-biasa saja dan sederhana. Tapi sebenarnya, dibalik itu semua tersimpan rejeki yang luar biasa banyak dan bagusnya. Namun, kita kadang kala tidak sadar dan sering tertipu dengan cover. Tertipu dengan tampilan luarnya saja, tertipu dengan awal yang biasa-biasa saja. Kadang diberikan sebuah cover berupa penundaan, sehingga kita dituntut untuk bersabar membuka cover tersebut. Kalau kau bersabar, maka kau kan membuka cover penundaan itu dan mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang kau harapkan.
Yakinlah, kesabaran membuahkan hasil. Jangan pernah berburuk sangka pada Allah SWT, ingat itu.
Sepenggal
Sepengal..
Mungkinkah yang tersisa hanya sepengal?
Kenangan yang sepenggal, perasaan yang tersisa sepenggal
dan bahagia yang juga tinggal sepenggalnya saja.
Sepenggal kebahagian yang tersisa sungguh menyedihkan,
lain halnya kalau sepenggal kesedihan yang tersisa.
Apakah perlu kau sisakan rasa itu sepenggal saja?
cukupkah?
Lebih baik hanya sepenggal daripada tiada,
tapi apakah yang kan kau berikan?
Akan kusisakan sepenggal kenangan tentangmu dan senyummu.
Cukup kurasa, untuk hari yang semakin ceria ini.
sepenggal duka, sepenggal bimbang dan sepenggal memori.
Ruang Persegi

Ya, semuanya bagai siklus.
Bagus bukan?
Sisi manapun kau berdiri,
kau kan saling menatap.
Walau terlihat monoton, kaku dan
tak bersahabat.
Tapi dia menjanjikan kenyamanan.
Lihatlah, kau tertawa disana,
didalam ruang persegi itu.
Menoleh dan melirikkupun enggan,
walau hanya untuk sepersekian detik.
Lihatlah ajaibnya ruang persegi itu.
Lalu kau mulai tersadar,
kau merasakan ada yang aneh dengan teksturnya.
Kasar kah? atau halus bak kapas?
Aku tahu, pasti halus.
Bukan itu yang anehnya,
perhatikan lekat-lekat.
Ruang persegi itu bergerak perlahan-lahan,
dia ingin menghimpitmu.
Ah, kau pasti tak percaya.
Tunggulah, beberapa saat lagi.
Jangan menoleh padaku tatkala dia menghimpitmu.
Aku akan tetap berdiri diluar,
melihat sisi kasarnya ruang persegi itu.
Tapi ingat, aku bersama udara, pepohonan.
Dan aku tersenyum, mereka juga disini..
