Kukisahkan sedikit peristiwa siang ini,
Waktu sekitaran pukul 1 siang, perutku sudah mulai keroncongan.. Maksudnya si cacing yang didalam perut sedang mendendangkan alunan musik keroncongan, hehehe.. Tak ada rencana mau pergi kemana, jadi mengingat penampilan yang sudah hancur-hancuran. maka saya putuskan untuk ke tempat pangkas, merapikan sedikit rambut yang susah untuk diatur ini. Pengennya pakek gaya sebeng, eh malah dia berdiri kriwil-kriwil.. Maklum ada sedikit perawakan tampang blasteran geto.hehehe.. maka saya mencoba untuk berhenti ke tempat pangkas, agak penuh sesak karena banyak pasien sedang mengantri. Kayak antri di bank geto, cuman bedanya disini gak ada nomor antrian ama TV penghilang suntuk. Terpaksa menunggu dengan mengamati keadaan orang2 yang sedang lalu lalang..
Semenjak dari tadi aku tidak memperhatikan didepan tempat dudukku sudah ada yang duluan mengantri, seorang bapak dan anaknya kira-kira berusia kurang lebih 10 tahunan gitu. Sebut saja namanya buyung (10 tahun). Baru tersadar ada mereka ketika sang anak berucap,
Anak: “Yah, kaloe udah potong rambut boleh beli mobil-mobilan kan???”
Ayah: dengan kening yang berkerut sang ayah menjawab berat “Iya, kaloe sudah potong rambut baru boleh beli”
Anak: Tersenyum senang yang amat sangat, hingga jumlah giginya dapat kuhitung saking lebarnya senyum si anak karena bahagia.
Kuperhatikan lekat-lekat sang bapak tersebut, perawakan tidak terlalu tinggi, kurus dan menampakkan wajah yang teramat lelah. Dalam hati aku berfikir, karena hari ini hari minggu makannya sang ayah punya waktu mengantar anaknya ke pasar.
Sang anak masih juga tersenyum, dia tidak pernah memperhatikan sudah berapa bayak kerutan diwajah ayahnya, betapa lelahnya sang ayah dan betapa kurus sudah dia.. Tak pernah sang anak ini melirik ke paras ayahnya, mungkin pada saat itu hanya aku yang sedang memperhatikannya.
Setelah sang anak duduk di kursi, sang tukang pangkas kewalahan untuk memotong rambut si anak. Karena anak ini menggerakkan kepalanya kesana kemari, si tukang pangkas jadi pusing dibuatnya. Sang ayah terlihat sangat kwatir, takut sekali anaknya ini terluka terkena pisau cukur yang tajamnya seperti sudah dia asah slama 2 bulan. Kerutan dikening sang bapak semakin meningkat, berkali-kali sang ayah mengingatkan jangan bergerak nanti luka.. Dia mendengarkan, tapi hanya berlangsung beberapa saat. Setelah itu dia kembali lagi menggerak-gerakkan kepalanya.
Dengan susah payah dan disertai keringat bercucran diwajah si tukang pangkas akhirnya selesai juga memotong rambut si anak. Sang ayah sangat gembira, karena melihat sang anak sudah sangat rapi. Setelah selesai membayar, sang anak rupanya masih ingat janji sang ayah. Dia berkata, “sekarangkan sudah potong rambut. Berarti setelah ini kita beli mobil-mobilan ya?? Si ayah hanya tersenyum dan mengangguk……….
*******
Itulah sepenggal peristiwa yang kulihat sore ini, dan pernah kualami ketika aku kecil. Sekarang aku baru tahu anggukan Ayahku beberapa puluh tahun yang lalu juga seperti ini. Dulu aku tidak pernah berfikir kalau Ayahku sudah sangat lelah dengan pekerjaannya, aku tak pernah memperhatikan kerutan yang sudah ada di wajahnya dan aku juga tak mau tahu apakah ayahku punya uang atau tidak untuk membelikan ku mainan pada saat itu…








