Senangkah atau Sedihkah (Repost)

Kukisahkan sedikit peristiwa siang ini,
Waktu sekitaran pukul 1 siang, perutku sudah mulai keroncongan.. Maksudnya si cacing yang didalam perut sedang mendendangkan alunan musik keroncongan, hehehe.. Tak ada rencana mau pergi kemana, jadi mengingat penampilan yang sudah hancur-hancuran. maka saya putuskan untuk ke tempat pangkas, merapikan sedikit rambut yang susah untuk diatur ini. Pengennya pakek gaya sebeng, eh malah dia berdiri kriwil-kriwil.. Maklum ada sedikit perawakan tampang blasteran geto.hehehe.. maka saya mencoba untuk berhenti ke tempat pangkas, agak penuh sesak karena banyak pasien sedang mengantri. Kayak antri di bank geto, cuman bedanya disini gak ada nomor antrian ama TV penghilang suntuk. Terpaksa menunggu dengan mengamati keadaan orang2 yang sedang lalu lalang..
Semenjak dari tadi aku tidak memperhatikan didepan tempat dudukku sudah ada yang duluan mengantri, seorang bapak dan anaknya kira-kira berusia kurang lebih 10 tahunan gitu. Sebut saja namanya buyung (10 tahun). Baru tersadar ada mereka ketika sang anak berucap,
Anak: “Yah, kaloe udah potong rambut boleh beli mobil-mobilan kan???”
Ayah: dengan kening yang berkerut sang ayah menjawab berat “Iya, kaloe sudah potong rambut baru boleh beli”
Anak: Tersenyum senang yang amat sangat, hingga jumlah giginya dapat kuhitung saking lebarnya senyum si anak karena bahagia.
Kuperhatikan lekat-lekat sang bapak tersebut, perawakan tidak terlalu tinggi, kurus dan menampakkan wajah yang teramat lelah. Dalam hati aku berfikir, karena hari ini hari minggu makannya sang ayah punya waktu mengantar anaknya ke pasar.
Sang anak masih juga tersenyum, dia tidak pernah memperhatikan sudah berapa bayak kerutan diwajah ayahnya, betapa lelahnya sang ayah dan betapa kurus sudah dia.. Tak pernah sang anak ini melirik ke paras ayahnya, mungkin pada saat itu hanya aku yang sedang memperhatikannya.
Setelah sang anak duduk di kursi, sang tukang pangkas kewalahan untuk memotong rambut si anak. Karena anak ini menggerakkan kepalanya kesana kemari, si tukang pangkas jadi pusing dibuatnya. Sang ayah terlihat sangat kwatir, takut sekali anaknya ini terluka terkena pisau cukur yang tajamnya seperti sudah dia asah slama 2 bulan. Kerutan dikening sang bapak semakin meningkat, berkali-kali sang ayah mengingatkan jangan bergerak nanti luka.. Dia mendengarkan, tapi hanya berlangsung beberapa saat. Setelah itu dia kembali lagi menggerak-gerakkan kepalanya.
Dengan susah payah dan disertai keringat bercucran diwajah si tukang pangkas akhirnya selesai juga memotong rambut si anak. Sang ayah sangat gembira, karena melihat sang anak sudah sangat rapi. Setelah selesai membayar, sang anak rupanya masih ingat janji sang ayah. Dia berkata, “sekarangkan sudah potong rambut. Berarti setelah ini kita beli mobil-mobilan ya?? Si ayah hanya tersenyum dan mengangguk……….

*******
Itulah sepenggal peristiwa yang kulihat sore ini, dan pernah kualami ketika aku kecil. Sekarang aku baru tahu anggukan Ayahku beberapa puluh tahun yang lalu juga seperti ini. Dulu aku tidak pernah berfikir kalau Ayahku sudah sangat lelah dengan pekerjaannya, aku tak pernah memperhatikan kerutan yang sudah ada di wajahnya dan aku juga tak mau tahu apakah ayahku punya uang atau tidak untuk membelikan ku mainan pada saat itu…

Lusa Menangislah Sekeras-Kerasnya (Repost)

Dia yang dulunya tinggal di sebuah desa terpencil, mengayuh sepeda buntut untuk pergi ke sekolah. Melawan arah angin dan menahan dingin pagi yang begitu menusuk tulang. Dia tak merasa lelah, walau ketika pulang mentari menyengat kulit. Di sekolah dia hanya tersenyum, tertawa dan melucu dengan kami. hidupnya tak sebahagia kamu bahkan aku, hidupnya berat. tapi tak ada guratan beban di parasnya, itulah uniknya dia. Pakaian sederhana dan beberapa tambalan dengan hansaplas di celana, tak membuat dia risih untuk ke sekolah.

Walaupun dia terlihat tegar, tapi kadang-kadang adakalanya dia meringkuk sedih disudut pojok kelas. Aku mengerti akan kesedihan yang dia alami. Bagaimana tidak, ayah dan ibundanya telah lama tiada. Aku saja yang masih memiliki ke dua orang tuaku kadang merasa rindu ketika mereka pergi sebentar. Apalagi dia, yang sudah ditinggal sejak lama. Akan tetapi itulah uniknya dia, dia hanya sedih terdiam untuk sesaat. katanya” aku tidak akan menangiis disini, aku akan menangis dan bersimpuh di sajadah ketika ku menghadap Allah” “aku juga tak sendirian, masih ada kalian disini” itulah dia, dengan segala kenangan yang tertoreh dihati ini.

Ketika tamat kuliah, harapannya hampir pudar untuk melanjutkan ke jenjang kuliahan. Dia tak putus asa, tapi keadaannya yang sangat putus asa. Beban berat dipikulnya, perasaan perih tersimpan di lubuk hati. Ketika aku dan mereka sudah mulai memikirkan masuk di jurusan apa, universitas apa dan akan kuliah dimana nantinya.
Dia tak sempat memikirkan mau kuliah dimana, jurusan apa, sebaliknya bisakah aku kuliah? cari uang darimana?

Butiran Bening menggenangi bola matanya, ketika hari-hari keberangkatan kami untuk meneruskan perkuliahan sudah semakin dekat. Dengan niat tulus dan modal sebuah surat dari abangnya yang merantau di negeri orang yang menyuruhnya untuuk melanjutkan kuliah, dia berangkat bersama kami untuk mencapai cita-cita yang masih sangat jauh wujudnya. Penuh canda dan tawa, walau tak tau apa yang akan dihadapi ke depan.

Menghadapi masa-masa sulit diperkuliahan, kami jalani dengan perasaan suka dan duka karena aku, dia tak sendiri karena juga ada mereka. Walau mesti menghadapi cobaan yang mungkin tak sebanding dengan orang lain rasakan, tapi bagi kami sangatlah berat. Apalagi dia, yang sangat pas-pasan hidupnya.

Saat yang paling mengenaskan ketika tiba di akhir bulan, terjadi hutang piutang, penghematan brutal, barter uang dan beras, sayur dibelakang rumah tetanggapun menjadi santapan yang luar biasa nikmatnya bagi kami, tidak lupa makanan wajib mie dan telur ayam menjadi makan utama. Tapi kami jalani dengan perasaan bahagia, karena kami bersama merasakannya. tak ada si kaya dan si miskin, tak ada sama sekali. dia berucap “Engkau kawanku maka kaulah saudaraku, sakitmu adalah sakitku, tapi pacarku bukan pacarmu” dan diapun tertawa terbahak-bahak.

Kini dia memetik buah dari pohon yangg dia semai dahulu, kini dia sudah bergelar sarjana. Aku sangat senang sekali, benar-benar sangat senang sampai air mataku ikut menetes. Aku juga tak tahu pasti air mata apa saja yang keluar ini. Apakah bentuk perasaan haru pada dia, atau bentuk rasa sedih karena dia mendahuluiku.

Tidak, ini air mata haru pada nya. Dia yang dulunya selalu mengayuh sepeda melawan angin dan terik mentari kini akan berdiri di sebuah aula merayakan kelulusannya. Dia yang dulunya pergi bersama dengan sepucuk surat dari sang abang, kini akan membuat air mata sang abang berlinang.

Semoga sukses kawan, tak perlu ingat duka kita. Tapi ingat saja lezatnya sayur yang tumbuh dibelakang rumah tetangga yang kita petik. Tapi, Ada sedikit pertanyaan yangg mengganjal di hati. Siapakah calon istrimu? apakah aku mengenalnya? hahahahahah….

“Banda Aceh 12-05-2010-kudedikasikan buat dia akan menyandang gelar S.Pd”

“Reuni Tanpa Kata”

Malam itu, belum terlalu larut sepertinya. Ah, aku agak lupa-lupa ingat. Maklumlah, terlalu banyak yang mengisi fikiran ini. Lupakan saja tentang isi fikiranku, ini tentang malam itu. Didalam sebuah rumah, cukup sederhana. Dan rumah ini lain dari yang lain, rumah ini tidak siku. Layaknya hidup yang memiliki jalan yang berliku, tapi tidak dengan rumah ini. Rumah ini mengisyaratkan bahwa liku hidup itu tidak 45 derjat tidak sampai malahan, karena rumah ini tak bersiku. Kelak kau akan kuajak untuk melihatnya, mungki suatu saat ketika kau telah menjadi baian dari hidupku.

Malam itu, ada 3 insan manusia. Em, biar lebih akurat. Kusebut saja ada dua lelaki dan satu pria. Bukankah sama saja lelaki dengan pria? kalian pasti bingung. :D Saya termasuk dari dua lelaki itu, si pria tersebut kusebut pria karena dia telah menikah. Dia lelaki yang berani, sungguh berani. :)

Kubilang tak ada kata, bukan berarti kami diam. Tidak, kami hanya mengenang masa-masa indah itu hanya dalam hati. Mengenang berbagai peristiwa yang telah kami alami dan kami selesaikan sesuai dnegan bagian masing-masing. Kini kami hanya bertugas mengenangnya, mengenang, dan menjaganya agar tetap utuh di memori.

Jadi, malam itu kami hanya membahas masalah boneka yang bisa ditumbuhi rumput. Saya juga baru tahu ada jenis boneka yang di punggungnya bisa tumbuh tanaman dalam dua minggu. -_-” Bagi kalian ini hanya pembicaraan konyol, tapi itulah intinya. Karena kami memang orang-orang konyol yang menagmbil jalan hidup secara konyol dan menjalaninya secara konyol.

Kalian tahu kan apa itu konyol? em, aku juga masih bingung. :D Tapi, begitulah adanya. Kami mengambil keputusan yang konyol kadang-kadang, bahkan untuk urusan hidup juga mengambil keputusan dengan kekonyolan walaupun akhirnya takdir menentukan lain. Oleh karena itu, aku tahu betul bagaimana sebuah takdir berperan penting dalam hidup ini.

Tapi kekonyolan ini tidak buat sang pria, dia mengambil keputusan yang sangat tepat dan berani dalam menjalani hidup. Dia mengorbankan sesuatu yang sangat penting untuk mendapatkan hal lain yang lebih penting. Karena hidup ini adalah sebuah pilihan, kita dituntut untuk memilih. Dan pilihan itu tidak selamanya mudah, benar-benar tidak mudah. Tidak berbanding lurus dengan prinsip ekonomi, mengeluarkan biaya/usaha sedikit untuk hasil yang lebih besar. Namun dalam hidup, kita menemukan perlu adanya usaha yang sangat-sangat besar agar mendapat hasil yang maksimal. Karena Allah SWT maha mengetahui seberapa besar usaha dan seberapa banyak do’a yang kita panjatkan. Yang penting usaha lalu berdo’a, simpel bukan? :D

Ah, malam itu tak terlalu panjang. Tapi cukuplah kusebut sebagai reuni. :)

Dia Lelaki Pemberani

Dia bukan seorang pengecut, dia sungguh berani. Tidak percaya kah kau? Air mataku hampir berlinang ketika aku menulis post ini. Dia lelaki  yang kuat, walau fisiknya tak sekuat pendiriannya. Dia lelaki yang berani tersenyum walau kenyataan pahit menghimpit. Dia berani merogoh dompetnya agar kau bahagia, setelah itu hanya Tuhan yang tahu.

Aku masih ingat ketika banyak orang yang mempersoalkan masalah fisik, dia hanya tersenyum. Lalu dia berkata “walaupun badanku kecil dan pendek tapi hatiku sungguh luas, seluas tatapanku hari ini” kalian dengar itu? Sungguh takkan kalian ragukan ketulusannya.

Benar dia seorang pencinta wanita, bukan banyak wanita.  Hanya seorang wanita yang bersarang di ulu hatinya. Namun apa daya, hatinya telahpun hancur berkeping-keping. Dia tidak lemah, walau sulit menata hati yang telah hancur menjadi puing-puing tersebut. Sungguh dia lelaki sejati, lebih sejati dari lelaki lain yang pernah kulihat disini.

Ya, walaupun dia sering menyepi dan berderai air mata karena dewi fortuna tidak bersedia hadir padanya. Namun, dia coba menyimpan resah, gundah dan kegalauannya dalam sebuah ruang 3×3 meter per segi. Ya, itulah sebuah ruang dimana dia tertawa, dia tersenyum, menyepi dan menangis. Aku yakin bagi kalian ruangan itu sangatlah sempit, tidak baginya. Karena dia sudah terlalu lama merasakan kepahitan hidup. Kalian takkan mampu kurasa, karena hidupnya pahit kuadrat. Dia lelaki yang tegar, tak sedikitpun dia mengeluh pada manusia, hanya pada Tuhan kurasa dia bersimpuh. Sungguh berapa kali kukatakan dia lelaki sejati!

Tahukah kau berapa banyak beban yang ada dipundak nya? Aku tahu kalian tak mampu menerawang sejauh itu. Sungguh berat, sungguh sangat-sangat berat. Sangking beratnya, senyumnya memudar tubuhnya menyusut saat ini. Hanya hati yang tetap terang benderang, dia telahpun lelah tampaknya. Tuk menopang kaki dan beberapa inderanya yang lain, dia tumbang kawan!

Kalaulah boleh kupinta, maukah kau menyediakan bahumu untuk dia bersandar sejenak? Tak usah kawatir, hanya sesaat saja. Bukannya aku enggan, dia hanya mau bahumu, dia hanya menginginkan didekatmu walau hanya boleh sesaat saja. Hanya 60 menit mu, atau kalau kau keberatan 30 menitmu saja, tak apalah, boleh juga hanya 5 menitmu. Biarkan dia merasakan kehadiranmu, karena matanya takkan mengenalimu, mataya telah tertutup kesedihan dan air mata itu. Kurasa dia kan mendengarmu, aku yakin itu.

Semoga kau tegar dan bertahan lelaki sejati, aku tahu kau pasti mampu melewati harimu yang berat itu.

Waktu Takkan Manantimu Teman

 

Ah, jangan bergurau..

Waktu takkan berhenti sedetikpun untuk menunggumu, bahkan untuk melirikmu.

Dia kan terus berlalu, dia seperti udara yang ada dan terus bergerak.

Apakah kau akan duduk disudut dinding kamarmu, terisak tangis mengenang berbagai memori

yang memekakkan telinga, mengiris hati dan menoreh luka?

Jangan teman, jangan siasakan udara yang ada.

Hiruplah..

hiruplah sebanyak-banyaknya selagi kau mampu.

Keluarlah dari zona nyamanmu, keluarlah dari selimutmu dan lihatlah dunia.

Dunia berwarna teman, tak hanya ada hitam dan putih, tak hanya ada naung dan bayang.

Rasakanlah pantulan cahaya itu, sungguh ada kehangatan disela-selanya.

Warna dunia, warna manusia, warna tanah, warna hari-harimu.

Belajarlah mewarnai harimu, layaknya anak-anak kecil yang belajar mewarnai.

Mereka terus menggurati kertas buram itu penuh dengan warna semakin banyak warna mereka semakin tersenyum dan tertawa.

Tidak inginkah kau seperti mereka? tanpa beban? tertawa lepas?

Em.. Aku ingin seperti itu, aku sedang mewarnai.:D

 

Maybe I am a spam?

Maybe Iam a spam? Hahaha.. Bener gak ya tu tulisannya, -,- anggap benar saja. :D

Hari ini baru aku sadari, kalau saya diidentifikasikan sebagai spam oleh seseorang. Mungkinkah aku suka mengusik, mengganggu orang tersebut?. Em, kalau benar berarti aku sudah berbuat dosa dengan menyakiti hati orang tersebut. Sebenarnya aku tak berharap menjadi penebar luka buat orang lain, aku tahu itu tidak boleh dan berdosa tentunya. Hendaklah kita menjadi layaknya pohon beringin, yang mampu meneduhkan diri kita dari sengatan matahari yang sangat panas.  Aku juga seperti itu, ingin sekali.

Apabila saya pernah berbuat dosa, mengganggu dan mengusik. Maafkanlah saya, karena saya sadar saya ini hanya manusia biasa yang kadankala tak mampu menjaga lisan yang tak bertulang ini.

Itu saja, wassalam..:D

Diskusi Aneh

Malam itu, kira-kira sudah pukul 10 malam. Tiba-tiba si temen sekamar datang dengan wajah uring-uringan, pokoknya ancur abis. Kalo bahasa acehnya “Hancoe that!.:D  Lalu dia berkata, “Bro, peget kupi saboh glah” (Buatin kopi secangkir). “eh” aku sontak kaget, kenapa ni ama si temen. Em, aku langsung bisa menebak kalau si temen lagi galau. Ya, begitulah kehidupan di kostan. Kalau kondisi lagi galau-segalaunya maka teman sekamar adalah tempat mecurahkan segala beban yang ada difikiran.

Lalu aku dengan sigap membuat “kupi gampoeng” alias kopi kiriman dari kampung halaman dan dengan stelan/takaran 2:5. Hihi.. kayak semen aja ya. 2 sendok makan gula dan 5 sendok bubuk kopi. Ni merupakan takaran kesukaan si temen. Setelah mengaduknya dengan sepenuh hati sambil menghirup aromanya yang bikin mata melek lagi.

Lalu kami menuju ke area curhat *emang ada? :D yaitu didepan kost, dibawah pohon mangga yang berbuahnya suka hati si pohon. Kadang lagi musim mangga, eh tu pohon kagak berbuah. Disitulah kami nongkrong pada malam itu, suasana agak sedikit mendung sih. Tapi kata orang, kalau bintangnya ada biasanya ga hujan. -,-” gak tahu sumbernya dari mana. Dan ternyata malam itu tidak turun hujan. Setelah menyerup kopi seteguk, maksudnya dia aku sudah ke tiga kali tegukan.:D Kami saling memandang. Ops! maksutnya memandang ke depan. Kami seperti sedang menerawang alam fikiran masing-masing, sitemen kurasa sedang memikirkan masalah yang sedang dihadapinya dan mau mulai cerita dari mana, sedangkan aku lagi mikir sama siapa besok harus pinjam uang karena persediaan uang udah menipis ni, :D Lalu dia berkata, “coba kamu bayangkan bagaimana kalau kita tahu siapakah yang menggantikan tulang rusuk kiri kita ini” maksudnya jodoh. “bayangkan saja kita sudah tahu siapa jodoh kita, kita sudah tahu dia cantik apa tidak, tahu karakter dia baik apa tidak” ucapnya menggebu-gebu. “eh”, aku kebingungan. “Iya juga ya, pasti aneh jadinya” ucapku sambil tersenyum. “Emang apanya yang aneh? tanyanya datar. “Em, bukan aneh sih. Tapi Allah SWT tahu kita gak akan sanggup menjalaninya” kenapa ga sanggup? dia memotong “Lah, kalau kamu dapat jodoh yang baik. cantik, putih nan licin ampe kepleset tu lalat, ya Alhamdulillah. Pasti kamu bakalan semangat ngapa-ngapain, kerja enak, makan juga enak. Nah sebaliknya kalau kamu dapat jodohnya, orang jahat, tidak baik hatinya, rupa juga pas-pasan. Aku jamin, hidupmu bakalan kamu habisin ditempat tidur” :D Ngapain di tempat tidur? dia kebingungan, “ya nangis lah” hahaha.. akupun tertawa. “Iya juga ya” dia kembali terdiam.

Aku kembali berkata, “Kamu tahukan qabil dan habil? anaknya nabi adam? mereka lahir kembar sepasang. Adiknya qabil sangat cantik sedangkan adiknya habil biasa saja parasnya, akan tetapi mereka harus menikah silang karena itu perintah Allah SWT. Qabil harus dengan adiknya habil sedangkan habil dengan adiknya qabil. Akhirnya apa? qabil tak mau terima, karena adiknya lebih cantik. Akhirnya terjadilah pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia. Kamu tahu karena apa? karena manusia punya nafsu. Begitu  juga dengan memilih calon istri, lihat jangan berdasarkan nafsu.

Kami kembali terdiam, “apa masalahmu? tanyaku langsung pada pokok permasalahan, “aku baru saja diputuskan sama pacarku, padahal aku sudah cinta mati padanya, aku sangat sayang padanya, aku mau kalau dia jadi jodohku. Kalo aku sudah lulus kuliah dan punya uang aku bakalan lamar dia, -_-” *masih lama ya. Tapi akhirnya kami putus, apa yang harus kulakukan? dia menjelaskan sambil memperlihakan ekspresi menangis. “em, masalah cinta rupanya. Beraaat! ucapku. “Loh, koq berat? “karena aku minim pengalaman masalah cinta ini” ucapku sambil menghela nafas. “Jadi solusinya gimana? mending kamu shalat istiqarah saja, minta petunjuk. APakah dia jodohmu atau bukan, kalau iya emang jodohmu pasti ada jalan. Kalaulah bukan, mungkin Allah memberikan pengganti yang lebih baik. Bisa jadi lebih cantik dari calonmu yang sekarang, lebih manis mungkin, bahkan bisa jadi lebih berisi alias gemuk” hahaha.. akupun tertawa, “hus, jangan di do’ain” dan diapun kembali murung.

Dan pembicaraan malam itu terus berlanjut, mulai dari membayangkan punya uang banyak, belanja suka hati, menjadi orang yang sukses. Padahal besok saya harus mencari orang yang bisa diminta utang uang. :( ya, begitulah mimpi dan hayalan. Tak terbatas dimensi, waktu dan keadaan.

Jadi,kesimpulannya. Jodoh itu di tangan Allah, kalau dapat yang baik luar dalam, cantik dan rupawan Alhamdulillah sekali, harus banyak-banyak bersyukur. Nah kalau dapat jodoh yang sedang-sedang saja, kecantikannya juga sedang-sedang saja. maka, DL (derita Lo) hahaha.. Berarti kalian dituntut untuk berjihat untuk memperbaiki akhlaknya dan bersabar tentunya. Pahalanya lebih banyak lagi bukan?

Begitulah kira-kira.. “Em, jodohku siapa ya kira-kira? cantik ga ya? *mikir, dian sastro udah nikah, mungkinkah nabila syakib?  atau sherina kali ya@_@*ngarep!!!. :D

I Miss You

Perasaanku saat ini..

 

Layaknya tabung reaksi yang diisi dengan beberapa cairan kimia, dipanaskan diatas suhu 100 derjat celcius. Tak berbentuk, hanya ada rincik gelembung-gelembung yang menghasilkan uap panas yang kosong dan hampa.

Pernah Kulakukan..

Berkali-kali kucoba berbalik arah, dan kuguratkan pena ke garis nol. Namun dia tetap  enggan tuk bergerak, dia diam dalam bisu di persimpangan garis antara aku dan memori tentangmu.

Selalu kubayangkan..

Selalu ingin menyandarkan kepala ini dibahumu, selalu ingin menceritakan duniaku yang haru biru padamu, selau ingin menatap teduhnya tatapanmu, selalu ingin mendengar keluh kesahmu, selalu.

Aku lemah saat ini..

Berapa kali harus kukatakan, I Miss You! Perlukah kuteriakkan kata-kata ini dipenjuru bumi agar kau mendengarkannya? Ah, sudahlah. Kupejamkan saja mata ini. Berharap ini sebuah mimpi? Hahaha.. Jangan menertawaiku, aku tahu aku hanya berharap ini sebuah mimpi..

Sungguh,

I miss you.

 

 

Think Different

Think Different!! *sok inggris. :D

Lebih tepatnya, berfikirlah dengan sudut pandang yang berbeda. Hal ini sangat penting dilakukan didunia Arsitektur, kenapa demikian? ya, agar karya yang dihasilkan tidak monoton, tidak sama seperti karya orang lain. Karena untuk membuat suatu karya hebat sungguh harus melemparkan imajinasi sejauh mungkin dan ditunjang dengan memori visual yang ada dalam fikiran kita. Sebenarnya tidaklah mutlah desain yang kita hadirkan ini memiliki bentuk yang aneh dan unik, tapi adakalanya kita berpijak pada aspek fungsional bangunan itu sendiri. Nah, cara kita meciptakan bentuk yang berdasarkan pertimbangan fungsional inilah harus dengan cara yang berbeda sehingga menghasilkan karya yang menarik.

Em, saya akan mencontohkan salah seorang Arsitek lokal yang saya idolakan yaitu pak Ridwan Kamil. Ni dia karyanya yang sangat saya sukai, yaitu Gramedia Expo, Surabaya

Keren kan? :D coba kalian perhatikan baik-baik bentuk nya, sudah? Bentuk apa yang kalian lihat? *@_@lagi mikir. Yup, fasade depannya berbentuk seperti buku kan?Inilah yang saya maksudkan, kebanyakan dari kita ketika diberikan kata kunci buku dan disuruh mengekspresikan ke dala bentuk kita akan berfikir secara sederhana. Alasannya tidaklah salah, agar mudah dikenali bukan? akan tetapi bung Ridwan Kamil ini tidak, beliau mengambil ide ini dari bentuk buku yang terbuka ke bawah persis seperti bentuk fasadenya. Padahal dia tidak merubah sample “buku” tapi memutarnya beberapa derjat. jadilah bentuk yang menarik dan fungsional bukan? kenapa saya katakan fungsional, fasadenya juga berfungsi sebagai atap yang sungguh manis. Melindungi dari tempias air hujan, apalagi kalau dibuat dari kaca yang transparan. Pada saat kita sedang membaca dan diluar sedang hujan kita bisa menyaksikan rintik hujan yang berjatuhan. Hahaha..so sweeet! -_-”

Begitulah kira-kira, ini cerita saya. :D

Alat Uji Coba (Suara Para “Oemar Bakhrie”)

Beberapa hari yang lalu saya mengantarkan paman saya untuk mengikuti kegiatan sertifikasi yang diadakan oleh pemerintah. Menurut cerita paman saya, yang umurnya sudah berkepala 5 kegiatannya hampir seperti kuliah yang dipenuhi tugas-tugas. Secara harfiah saja, kita lihat kondisi para guru yang sudah hampir disebut lansia ini sangat berat untuk menerima pelajaran yang semestinya diterima anak usia kuliahan. Ya itulah dilemanya, kalau tidak ikut berarti tidak lulus sertifikasi dan tidak naik gaji. :) Memang sungguh miris sebenarnya kondisi para guru, dengan adanya sertifikasi ini sedikit membantu duka dan lara para guru. Seharusnya gurulah yang harus dihargai dan diutamakan, karena guru merupakan orang yang mendidik para dokter, menteri, presiden saat ini. Oleh karenanya peran guru sangatlah penting.

Sekarang kondisi kurikulum yang ada di negeri ini lebih bersifat uji coba, saya juga sempat merasakan beberapa perubahan kurikulum pada saat SMP dan SMA. Ya, kita dan para guru inilah yang menjadi kelinci percobaannya. Kita berusaha agar bisa menyesuaikan system kurikulum yang telah dibuat, sedangkan guru berjuang mati-matian mempelajari system yang baru tersebut dengan kondisi usia yang tidak fresh lagi dalam berfikir.

Mirisnya, ketika UN tiba masih banyak orang yang menyalahkan kinerja guru. Ya, seperti yang saya katakan tadi.  Kita hanya kelinci percobaan system yang dibuat, system yang dibuat dan dianalisa secara teori. Saya tidak meragukan kemampuan orang –orang yang membuat system ini, saya yakin yang duduk diposisi tersebut adalah orang-orang yang bergelar master dan doktor bahkan. Tapi, pernahkah mereka merasakan menjadi seorang guru? Seorang guru yang ditugaskan didaerah terpencil? Didaerah yang sangat tertinggal? Yang perlu usaha lebih keras untuk menjelaskan pelajaran, serta perlu mengulang beberapa kali agar para murid mengerti pelajaran yang diajarkan. Ya, seperti paman saya dan temannya ini. Begini kata-kata yang disampaikan paman dan temannya, “Lah, tentu banyaklah yang tidak lulus UN itu. Kan standartnya dibuat berdasarkan analisa sekolah-sekolah anak kota, mereka cerdas-cerdas. Yang kita ajarkan ini anak-anak pelosok/kampung yang pesawat terbang aja mereka tidak pernah lihat secara langsung, apalagi internet itu, ya tentu mereka kalah dengan standart yang dibuat. Sekarang yang disalahkan kami para guru, apakah mereka tahu bagaimana perasaan kami mengajar dipelosok sana? Apa mau mereka turun membantu mengajar disana? saya jamin mereka enggan.” Begitulah kira-kira ringkasan pembicaraan kami.

Mungkin kita dapat contohkan dengan sekolah Inti/Unggul, saya juga tidak terlalu setuju dengan system pengelompokan yang membodohkan seperti ini. Mengapa saya katakan demikian, saya dulunya adalah siswa sekolah unggul ini. Tapi saya keluar, karena saya berfikir. Kalau semua orang yang pintar dan cerdas sudah dikumpulkan disini, bagaimana nasib teman-teman saya yang IQ nya sedang. Okelah kita menganggap itu tugas sang guru, nah guru yang memiliki prestasi dan baik dalam mengajarpun di pindahkan ke sekolah ini. Bearti secara kasar dapat kita katakan, “sibodoh belajar pada sibodoh, yang pintar belajar pada yang pintar” begitulah kira-kira. Kapan majunya?

Kondisinya, kita manusia ini tidak diciptakan dengan keadaan IQ yang sama, tidak diciptakan di daerah yang sama. Ada yang dikota dan dapat mengenyam pendidikan yang cukup semenjak kecil, ada sebagian orang hidup didaerah terpencil yang listrik saja belum ada. Coba kalian bayangkan, sangat signifikan bukan? Lalu dengan mudahnya para pembuat kurikulum dan system ini membuat seenak perut mereka. Saya ulangi lagi, saya tahu mereka tidak bodoh tapi tidak punya pengalaman!.

Ya, begitulah kondisi pendidikan saat ini. Tidak usah dipertanyakan mengapa kondisi Negara ini tidak maju-maju, hutang semakin banyak, moral anak-anak juga pada rusak. Ya itu tadi, dari awal dari generasi penerusnya tidak pernah difikirkan secara benar dan serius. Pada siapa Negara ini kelak? Bukan pada orang yang bergelar master dan doktor yang sudah lansia itu, tapi pada anak-anak yang masih bayi itu, anak-anak SD saat ini, itulah yang seharusnya yang difikirkan secara benar.

Apakah mereka tidak pernah membaca sejarah? Ketika Jepang yang hancur lebur oleh bom di hirosima dan Nagasaki, kaisarnya selalu menanyakan berapa orang guru yang tersisa. Ya, gurulah yang akan menentukan masa depan suatu Negara.

Sang cit lale peu troe prut mantoeng, nyan keu manusia.. -_-”